Ratik Togak, Lambang Religius Lima Luhak

Ratik Togak, Lambang Religius Lima Luhak
photo diambil dari penelusuran google search

Rokan Hulu dalam lima tahun terakhir menjadi perbincangan di berbagai penjuru nusantara Indonesia. Selalu menjadi topik yang menarik jika membicarakan Negeri Seribu Suluk ini, baik di dunia maya, televise dan  sebagainya. Topik yang dibincangkan tidak terlepas dari beberapa bangunan ikonik yang dibangun berdasarkan tradisi dan kebudayaan tempatan.

Katakanlah yang paling fenomenal seperti masjid Agung Islamic Centre Kabupaten Rokan Hulu, yang dua tahun terakhir mendapat penghargaan dari kementrian Agama Republik Indonesia sebagai masjid paripurna terbaik se-Indonesia. Masjid ini melambangkan kerelegiusan masyarakat Rokan Hulu, kecintaan akan agama dan ketaatan kepada Allah. Tak heran, jika ribuan pengunjung dari dalam maupun luar negeri sudah datang berkunjung ke masjid ini.

Selain Islamic Center, ada pula Pematang Baih, yang dibangun berdasarkan kebiasaan penduduk tempatan kala itu berhenti di sebuah pematang (sekitar 500 meter arah utara dari pematang baih yang sekarang) sambil membuka bekal, rehat makan dalam perjalanan pulang dari ladang ke kampung/ baruh. Nama pematang itu adalah Baih. Sehingga diabadikan oleh pemerintah menjadi sebuah taman bermain tepat di depan Islamic Center Rokan Hulu, bernama pematang baih.

Selain dua bagunan itu, berdiri pula di tengah jalan lintas (jalan lingkar) sebuah bangunan yang juga melambangkan kerelegiusan masyarakat Rokan Hulu, bernama tugu Ratik Togak. Posisinya tepat di depan Islamic Center, dan juga tepat di depan kantor Lembaga Adat Melayu Kabupaten Rokan Hulu.

Ratik bermakna zikir, ratib. Ianya dilakukan oleh kaum tasawuf/ sufi untuk mencari puncak kenikmatan berzikir, dinamakan juga sebagai ratik soman (ratib tharikat Samaniah). Zikir seperti ini biasanya dilaksanakan pada penutupan khalwat 41 hari jamaah thariqat. Semacam kenduri keluar dari suluk. Ianya khusus dilakukan oleh kelompok jamaah thariqat (sufiah) dan tidak mengajak orang lain atau masyarakat umum.

Kaum sufi punya cara tersendiri dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah. Upaya mencari jalan halus menuju Allah itu ditempuh mengikuti wasilah guru Thariqat yang turun temurun. Beragam zikir dilakoni mulai dari yang seperti ini (dalam kenduri Thariqat) hingga zikir Sirr atau sampai pada Zikir Fana (tanpa gerak lisan dan tubuh). Bacaannya menurut zikir yg diajarkan Rosulullah. Tidak ada ucapan fasik dan munkar dalam zikir tersebut. Mereka juga menjaga adab serta kehalusan perasaan di hadapan Allah.

Jika ingin merasakan nikmat Zikir Sufiah Thariqat Muktabaroh, harus masuk dulu jadi jamaah. Murid dibimbing oleh guru atau tuan syaikh (guru besar). Terlarang mengerjakan amalan Thariqat jika bukan jamaah dan terlarang melakukannya tanpa bimbingan guru.

Untuk hukum melakukannya, kaum sufi sudah selesai mengkaji hukum fiqih dan tidak ada persoalan dengan bid-ah. Amalan sufi ini khusus wal khusus dan berkiblat pada makom amaliah nabi Khaidir AS serta tidak melampaui Alquran dan Sunnah. Mereka juga mengamalkan ajaran mulia para guru dengan wasilah yang tidak terputus. Wasilah utamanya adalah ilmu yang benar.

 

Video Tradisi dan Budaya Rokan Hulu : Koba dan Sang Maestro

Indeks Berita Hari Ini