Hate Speech dan Hoax yang Meresahkan

Hate Speech dan Hoax yang Meresahkan
@Hardianto

Rohultoday.co- Beberapa waktu yang lalu kita mendengar bahwa pihak kepolisian berhasil menangkap kelompok yang menamakan dirinya Saracen yang diduga memproduksi dan meyebarkan hate speech dan berita hoax.

Apapun alasannya hate speech dan berita hoax merupakan permasalahan serius yang harus dihilangkan. Hate speech atau ujaran kebencian adalah tindakan komunikasi yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan, ataupun hinaan kepada individu atau kelompok yang lain dalam hal berbagai aspek seperti ras, warna kulit, etnis, gender, cacat, orientasi seksual, kewarganegaraan, agama, dan lain-lain. Sementara hoax berasal dari bahasa Inggris yang berarti tipuan atau menipu. Berita hoax adalah berita yang isinya tipuan atau berita bohong yang tujuannya bisa memfitnah orang/ sekelompok orang.

Hate speech dan hoax pada dasarnya tidak hanya terjadi dalam dunia maya (media sosial) tetapi juga bisa terjadi melalui komunikasi langsung antara seseorang dengan orang lain. Akan tetapi kemajuan media komunikasi dan trend media sosial, menjadikan media sosial menjadi tempat subur yang digunakan untuk menyebar ujaran kebencian (hate speech) dan hoax. Apapun tujuannya hate speech dan hoax merupakan kejahatan yang dapat mengakibatkan permasalahan serius bagi suatu bangsa.

Pendidikan merupakan tameng utama untuk menjadikan seseorang tidak melakukan hate speech ataupun terlibat dalam berita hoax. Pendidikan informal di lingkungan keluarga dan masyarakat merupakan langkah preventif untuk menjadikan seseorang tidak membenci orang lain. Pada dasarnya tidak ada anak yang dilahirkan untuk membenci orang lain.

Keluarga harus menanamkan sikap toleransi dalam perbedaan. Anak-anak harus selalu diajarkan dengan kasih sayang, kelembutan dan sikap menghargai. Sikap menghargai orang lain dan saling menyanyangi merupakan sikap-sikap yang bisa menghindari seseorang untuk tidak melakukan hate speech yang harus ditanamkan sejak dini.

Pendidikan di tengah-tengah masyarakat juga sangat berperan membentuk manusia bebas tindakan hate speech dan hoax. Masyarakat harus saling peduli dan saling mengingatkan. Pola kehidupan individualis yang tidak mau tahu dengan lingkungan sekitar menyebabkan kurangnya kontrol sosial. Ketika seseorang sudah membenci orang lain, senyum saja bisa diartikan tindakan yang salah dari orang tersebut

Sekolah sebagai lembaga yang dirancang khusus untuk melaksanakan pendidikan juga sangat berperan dalam membentuk manusia bebas tindakan hate speech. Pendidikan dasar harus benar-benar menjadi pembentuk kepribadian anak-anak Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Tanpa mengurangi aspek kognitif, pembentukan aspek afektif dan psikomotorik pada dasarnya harus lebih diprioritaskan dan dibentuk sejak dini. Anak-anak pendidikan dasar tidak perlu dibebankan tugas kognitif yang terlalu banyak sehingga pembentukan afektif dan psikomotorik menjadi tidak maksimal.

Pendidikan nonformal merupakan jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidikan pada lembaga kursus dan bimbingan belajar ataupun bentuk lainnya juga harus bebas dari tindakan hate speech dan hoax. Pengajar dan orang lain yang mengetahui adanya hate speech dan hoax harus segera menghentikan tindakan tersebut.

Selain itu, perlunya figur yang bisa diteladani. Orang dewasa bagi anak-anak merupakan contoh, ketika anak-anak biasa mendengar ujaran kebencian mereka akan mengikuti untuk melakukan hal yang sama. Begitu juga dalam konteks berorganisasi dan bernegara, pemimpin harus menunjukkan dan tidak sekali-kali melakukan hate speech dan hoax.

Berkenaan dengan penggunaan media sosial, perlu kiranya regulasi penggunaan media sosial tersebut. Berkenaan dengan regulasi dan aturan tentu akan ada tindakan atau hukuman bagi yang melanggar aturan tersebut. Aturan harus dijalankan secara jujur dan adil. Siapa saja yang melanggar aturan harus diberikan sanksi yang berlaku sesuai dengan tata aturan yang telah dibuat.***

 

Oleh : Hardianto, Dosen Universitas Pasir Pengaraian

 

Indeks Berita Hari Ini