Stop Kekerasan Di Sekolah

image_title
Linkedin
Stop Kekerasan Di Sekolah
Ilustrasi seorang guru sedang mengajar @portalpacitan

Belum hilang ingatan pada tragedi penganiayaan siswa terhadap guru, yang berujung pada kematian pak Ahmad Budi Cahyono guru Seni Rupa SMA N 1 Torjun Sampang Madura.

Kembali lagi dunia pendidikan dikagetkan oleh penganiayaan oknum orangtua siswa terhadap kepala sekolah SMP N 4 Labuan Uki Kecamatan Lolak Kabupaten Bolaang Mongondow Sulawesi Utara. 

Dua tindakan anarkis ini benar-benar seolah olah membuat profesi guru menjadi profesi yang tidak lagi aman. 

Apapun alasannya dua tindakan di atas tidak bisa dibenarkan sama sekali. Kekerasan yang berujung pada kematian dan penganiayaan, jelas sekali termasuk perkara pidana yang harus dituntaskan melalui jalur hukum. 

Profesi guru yang sangat mulia untuk mencerdaskan generasi bangsa harus dilindungi lebih kuat lagi melalui tata aturan yang lebih jelas. Kejadian kekerasan ataupun tindakan bullying di sekolah tidak hanya dilihat dari konteks permasalahan yang terjadi saat itu, tetapi juga harus dilihat dari hulunya, kenapa masalah tersebut terjadi.

Begitu juga penanganan kasusnya, tidak hanya untuk menyelesaikan masalah saja tetapi juga harus dilihat dampak atau hilirisasi masalah tersebut. Permasalahan bullying di sekolah bisa melibatkan bully guru terhadap siswa, tindakan bully antara sesama siswa, dan sekarang orangtua terhadap guru. 

Bully yang dilakukan oknum guru berhulu dari permasalahan rekrutmen guru dan aturan tentang penegakan disiplin siswa. 

Bully yang dilakukan oknum guru  mengindikasikan perlunya peningkatan standarisasi rekrutmen guru. Guru tidak hanya terampil mengajar di kelas tetapi memahami ilmu psikologi peserta didik. 

Dalam aturan jelas, bahwa guru yang diterima harus memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan  kompetensi sosial.

Tata aturan yang seakan-akan guru tidak boleh melakukan tindakan fisik sekecil apapun menjadi “senjata” bagi siswa, sehingga guru hanya bisa diam, mengurut dada atau berdoa menghadapi perilaku siswa sudah melanggar aturan. 

Penulis sangat tidak setuju apabila ada guru yang “menghajar siswa” sampai babak belur atau melakukan kekerasan dan pelecehan nilai kemanusiaan kepada siswa. Tetapi kalau hanya sekedar mencubit sedikit tangan ataupun kaki yang bertujuan untuk menghentikan tindakan pada dasarnya itu tidak termasuk penganiayaan yang harus berujung di pengadilan.

Tindakan bully sesama siswa perlu penanganan dari guru, orangtua serta masyarakat dan pemerintah. 

Guru harus mampu menjaga agar tindakan bully tidak terjadi di kelas. Aturan sekolah dan penegakan disiplin sekolah harus benar-benar diterapkan. Orangtua mesti selalu memperhatikan tindakan dan kondisi psikologi anak. Orangtua harus menjadi tempat anak mengadu setiap permasalahan yang menimpa mereka. Orangtua harus “dekat” dengan anak, jangan sampai anak lebih senang curhat kepada teman sebaya dari pada orangtua mereka. 

Ketika anak curhat dengan teman mereka jelas solusi yang diberikan temannya tidak akan mampu sebaik solusi dari orangtua yang punya banyak pengalaman.

Orangtua juga jangan terlalu cepat percaya setiap pengaduan dari anak-anak mereka. Setiap ada pengaduan dari anak, orang tua harus cek kebenarannya. 

Orangtua jangan terlalu mudah emosi sehingga menyerang pihak sekolah. Perlunya komunikasi yang positif antara guru dan orangtua. Pertemuan wali siswa dengan guru secara berkala bisa menjadi solusi agar komunikasi antara siswa, guru dan orangtua bisa terjaga.

Masyarakat juga berkontribusi terhadap tindakan bully yang dilakukan siswa. Masyarakat yang lebih individualis cenderung membiarkan anak melakukan tindakan tidak terpuji. 

Masyarakat harus bertanggungjawab melakukan kontrol sosial terhadap siswa. Cukup sulit dewasa ini melihat orang dewasa yang mau menegur anak-anak melakukan tindakan yang bisa memancing tindakan bully atau tindakan negatif lainnya.

Pemerintah juga harus berupaya lebih maksimal untuk menekan tindakan kekerasan maupun bully. Penulis melihat tontonan atau sinetron yang tidak mendidik semakin banyak sehingga anak meniru apa yang mereka lihat. 

Sinetron yang memperlihatkan tindakan ataupun potensi bully dan memancing kekerasan harus di stop penayangannya. Jangan biarkan tontonan yang merusak hadir lagi di layar televisi yang dilihat anak Indonesia.

Oleh :Hardianto
Dosen Universitas Pasir Pengarayan dan 
Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri jakarta

Loading...