Home Opini Memberantas Predator Anak dari Aspek Pendidikan

Memberantas Predator Anak dari Aspek Pendidikan

2,480
0
SHARE
Memberantas Predator Anak dari Aspek Pendidikan

@hardianto

Rohultoday.co-Beberapa waktu yang lalu masyarakat dihebohkan dengan penangkapan jaringan internasional predator anak. Para pedofilia kembali mengintai anak-anak bangsa untuk memuaskan hasrat menyimpang mereka. Seluruh unsur masyarakat tersentak dan kaget karena kejadian pedofilia kembali terulang. Belum hilang ingatan kejadian pedofilia di Papua muncul lagi kejadian dengan sindikat internasional.

Kita kembali kecolongan, setelah kejadian baru kembali sadar untuk lebih hati-hati dalam menjaga anak-anak kita. Pada dasarnya kita tidak hanya dituntut hati-hati tetapi lebih menekankan bagaimana pencegahan agar masalah seperti ini tidak kembali terulang. Menyelesaikan permasalahan ini tentunya harus dilihat dari akar permasalahannya. Pendidikan harus bisa memberikan kontribusi untuk mencegah agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi.

Beberapa cara yang bisa diambil untuk mengatasi permasalahan ini dari kacamata pendidikan adalah;

1. Menanamkan nilai-nilai agama dan budaya sejak dini.

Pendidikan informal merupakan pendidikan dalam keluarga yang sangat penting. Saat ini banyak masyarakat yang kurang mempedulikan pendidikan informal ini. Sesibuk apapun orangtua, nilai-nilai agama dan adat mesti ditanamkan sejak dini. Nilai-nilai agama dan adat inilah yang akan memfilter penyakit menyimpang dalam bentuk pedofilia itu. Orangtua mesti menjadi figur yang bisa diteladani oleh anak anak mereka.

2. Stop tayangan yang tidak mendidik

Tayangan acara di telivisi merupakan sumber belajar bagi anak. Sebagai sumber pendidikan/ belajar tentunya harus memberikan tontonan yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Acara yang dapat merusak seperti sinetron yang penuh dengan kekerasan, percintaan dan acara lainnya yang merusak harus segera distop. Melarang anak menonton televisi tentu tidak bijak, oleh karena itu tontonan yang mereka lihat harus benar-benar bisa menuntun mereka menjadi lebih baik.

3. Bimbing anak dalam menggunakan teknologi

Kemajuan teknologi tidak bisa kita hindari. Penggunaan teknologi bagi anak mesti dibawah bimbingan orangtua. Orangtua mesti mengetahui konten-konten yang diakses oleh anak. Kondisi sekarang yang terjadi adalah orangtua tidak melek teknologi, sehingga bisa dibohongi oleh anak mereka sendiri.

4. Jadikan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan

Sekolah sebagai tempat yang dirancang khusus untuk penyelenggaraan pendidikan mesti menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak. Suasana yang menyenangkan ini menjadikan anak-anak suka belajar dan memperoleh pemahaman yang lebih optimal. Nilai-nilai positif akan mudah diajarkan dalam suasana yang menyenangkan.

5. Gerakan nasional masyarakat peduli anak

Kejahatan yang dilakukan pedofilia lebih disebabkan karena masyarakat yang semakin individualis. Sehingga kebanyakan masyarakat tidak lagi memperhatikan kondisi di sekitar mereka. Oleh karena itu perlu sebuah gerakan nasional tentang masyarakat peduli anak.

Predator anak memang harus menjadi musuh kita bersama. Upaya pencegahan mesti segera dilakukan. Pendidikan memegang peranan mendasar untuk mengatasi itu. Selain pendidikan formal, pendidikan non formal dan pendidikan informal juga memegang peranan yang sangat penting untuk mencegah meluasnya perilaku menyimpang tersebut. Oleh karena itu, upaya perbaikan pendidikan tidak lagi difokuskan pada pendidikan formal, melainkan juga pendidikan non formal dan pendidikan informal.***

?

Hardianto, M.Pd

*Dosen Universitas Pasir Pengaraian kabupaten Rokan Hulu yang saat ini sedang menyelesaikan program Doktoral di Universitas Negeri Jakarta.