Home Opini Jangan Tinggalkan Tut Wuri Handayani Sendirian

Jangan Tinggalkan Tut Wuri Handayani Sendirian

989
0
SHARE
Jangan Tinggalkan Tut Wuri Handayani Sendirian

Hardianto, S.Pd, M.Pd

Oleh : Hardianto,S.Pd., M.Pd

Dosen Pendidikan IPS Universitas Pasir Pengaraian (UPP) dan Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan Universitas?Negeri Jakarta.

Rohultoday.CO -?Seperti kita ketahui bersama bahwa setiap tanggal 2 mei, selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tema Hari Pendidikan Nasional tahun 2018 adalah ?Menguatkan Pendidikan Memajukan Kebudayaan.

Tema ini dirasakan sangat cocok melihat kondisi pendidikan dan kebudayaan bangsa saat ini. Pendidikan walaupun sudah semakin baik akan tetapi masih banyak permasalahan yang terjadi, begitu juga kebudayaan yang kian tercemar dengan kebudayaan asing.

Berdasarkan data dari Deutsche Welle, diketahui pendidikan Indonesia berada pada peringkat 5 di Asean. Indonesia masih kalah dari Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia dan Thailand. Di dunia, Indonesia berada pada peringat 108 dengan skor 0,603. Hanya sebanyak 44% penduduk menuntaskan pendidikan menengah.

Sementara 11% murid gagal menuntaskan pendidikan alias keluar dari sekolah (sumber https://news.okezone.com). Data lainnya menyebutkan bahwa pemeringkatan PISA tahun 2015,? Indonesia berada di urutan ke-72 kalah jauh dari Vietnam yang berperingkat 8 (sumber www.jpnn.com). Data-data ini tentunya mengindikasikan perlunya perbaikan sistem pendidikan di Indonesia.?

Peringkat di atas tentu saja sejalan dengan melihat begitu banyak kondisi dan kejadian di lembaga pendidikan. Kejadian seperti tindakan bully di sekolah, rendahnya fasilitas sekolah, minimnya gaji guru (terutama honorer), politisasi dalam pengangkatan kepala sekolah dan pejabat dinas pendidikan, sekolah yang kekurangan guru dan minimnya kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi.

Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 dengan tegas dinyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah ?berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.? Melihat kondisi kekinian, jelas tujuan tersebut belum berhasil.

Upaya memajukan pendidikan dan mewujudkan tujuan pendidikan harus terus dilakukan secara berkesinambungan. Ki Hajar Dewantara telah mengemukakannya dalam semboyan yang sangat fenomenal yaitu ?ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani? (di depan sebagai teladan, di tengah membimbing dan di belakang memberikan dorongan). Tiga kalimat semboyan ini harus dilakukan sebagai satu kesatuan. Namun dalam kenyataan terlihat bahwa hanya kalimat Tut Wuri Handayani yang lebih ditonjolkan (seperti dalam logo kementerian pendidikan dan kebudayaan).

Pemenggalan ini menjadikan banyak orang yang hanya mampu memberi dorongan tanpa bisa menjadi teladan dan membimbing. Padahal saat ini masyarakat sangat membutuhkan keteladanan dan bimbingan. Harusnya di setiap kalimat tut wuri handayani selalu di dahului oleh ing ngarso sung tulodo dan ing madyo mbangun karso. Jangan biarkan tut wuri handayani sendirian lagi.

Kepala sekolah, guru, dan peserta didik harus mengaplikasikan semboyan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Semuanya harus mampu berupaya untuk menjadi teladan bagi yang lainnya. Seorang siswa harus berupaya menjadi teladan bagi siswa lain. Begitu juga guru menjadi teladan bagi guru lain dan tentu saja teladan bagi siswa. Sementara kepala sekolah menjadi teladan bagi seluruh sivitas sekolah.

Begitu juga dalam hal membimbing atau membangkitkan (mbangun), setiap orang harus bisa membangkitkan semangat yang lainnya. Sesama siswa saling menyemangati untuk giat belajar. Guru saling mbangun agar terlaksana pendidikan yang menyenangkan serta kepala sekolah menjadi motivator bagi sivitas sekolah. Budaya saling mengingatkan dalam setiap tindakan akan menjadikan kontrol untuk selalu menampilkan tindakan yang baik.

Memajukan budaya juga mesti dilakukan dengan tindakan nyata. Percuma saja digembar-gemborkan dalam seminar ataupun dalam brosur tanpa ada tindakan konkret. Contoh sederhana kita melihat bahwa tontonan saat ini tidak lagi mampu untuk memajukan budaya, maka stop siaran-siaran televisi yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Tindak tegas penyebar berita palsu (hoax) karena dapat merusak budaya persatuan bangsa.