Catatan Tentang Rencana Dosen Impor

image_title
Linkedin
Catatan Tentang Rencana Dosen Impor
Rencana Pemerintah untuk mendatangkan dosen asing

Rohultoday.CO - Rencana pemerintah mendatangkan dosen impor menjadi topik pembicaraan yang ramai dan hangat dikalangan pemerhati pendidikan. Sebagian kalangan menyambut baik kebijakan tersebut dan sebagian lagi memandang kebijakan tersebut sesuatu yang tidak tepat.

Alasan utama mendatangkan dosen asing adalah untuk meningkatkan reputasi pendidikan Indonesia di mata dunia internasional.

Seperti dikutip dari katadata.co.id, menristekdikti menyatakan bahwa impor 200 dosen asing bertujuan untuk meningkatkan staff mobility (masuknya dosen asing atau dosen Indonesia ke negara asing). Staff mobility ini merupakan salah satu indikator untuk mewujudkan pendidikan reputasi dunia. Saat ini sudah ada 30 dosen asing yang mengajar dan Indonesia membutuhkan lebih dari 1000 orang dosen asing.

Dikutip dari republika.co.id dan eramuslim.com bahwa pemerintah telah mempersiapkan 300 M untuk menggaji dosen asing dan akomodasinya.

Dosen asing tersebut akan digaji mulai dari 39 juta sampai 65 juta rupiah per bulan. Saat ini sudah ada 70 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta yang mengusulkan permintaan agar dosen asing bisa mengajar.

Terlepas dari sudah adanya kajian pemerintah mengenai rencana tersebut, perlu juga diperhatikan lebih dalam dampak positif dan negatif yang bisa ditimbulkan oleh kebijakan tersebut. Adanya dosen asing memang akan meningkatkan staff mobility.

Selain itu, dosen asing tentu akan dapat memicu prestasi sebagian dosen lokal. Dosen lokal diharapkan dapat menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dari dosen impor tersebut.

Sebagai salah seorang dosen yang bekerja di salah satu PTS, saya melihat kebijakan dosen impor baik dilakukan apabila :

1. Jangan asal impor.

Regulasi tentang dosen impor tentu saja sudah dikaji lebih dalam sebelum rencana ini diimplementasikan. Akan tetapi perlu juga diingat bahwa dosen impor (yang katanya hebat) belum tentu bisa juga hebat setelah mengajar di Perguruan Tinggi lokal.

Sarana prasarana yang lengkap dan mutakhir serta budaya akademik yang ada di Perguruan Tinggi asalnya bisa jadi penyebab hebatnya dosen tersebut.

Ketika di Perguruan Tinggi lokal dengan sarana prasarana yang ada saat ini menjadikan kehebatannya berkurang atau bahkan hilang. Sebelum dikontrak tiga tahun, alangkah lebih baik diujicoba selama 4 atau 6 bulan.

Contoh sederhana adalah pemain bola asing yang bermain di liga Indonesia. Klub sepakbola di Indonesia tentu sudah memperhatikan skill si pemain sebelum dikontrak, akan tetapi ketika kompetisi berjalan kita bisa melihat banyak pemain asing yang tidak lebih hebat dari pemain lokal.

Jangan-jangan dosen asing nantinya di naturalisasi seperti pemain asing yang dinaturalisasi.

2. Perhatian pemerintah terhadap PTS lebih ditingkatkan.

Pemerataan pendidikan, baik dari kualitas dan kesempatan juga perlu diperhatikan pemerintah. Dana 300 M sangat besar dan akan sangat membantu apabila dialokasikan untuk mengembangkan perguruan tinggi di Indonesia terutama PTS. 

Banyak PTS yang belum memiliki sarana prasarana yang memadai untuk berkompetisi dengan PTN apalagi berkompetisi secara internasional. Ketika PTN dan PTS besar disuntik dengan tambahan dosen asing, tentu saja kesenjangan kualitas akan semakin dirasakan.

Hal ini akan menjadikan PTS kehilangan calon mahasiswa dan berakhir dengan penutupan Perguruan Tinggi. Ketika kualitas PTS dan PTN sudah tidak terlalu jauh maka kebijakan dosen asing rasanya bisa diprioritaskan.

3. Gaji dosen baik PTN dan PTS harus ditingkatkan terlebih dahulu.

Melihat besarnya perkiraan gaji yang diterima dosen asing (39-65 Juta rupiah/bulan) akan membuat miris apabila dibandingkan dengan dosen lokal.

Pemerintah tentu mengetahui bahwa ada dosen PTS yang digaji hanya 2 juta rupiah per bulan. Bahkan ada gaji dosen yang sudah berkualifikasi S3 masih kurang dari 3 juta rupiah perbulan. 

Bagaimana dosen akan meningkatkan kemampuannya sementara gaji yang mereka terima sangat sedikit. Pemerintah perlu membuat kebijakan tentang gaji minimal seorang dosen, sehingga mereka bisa fokus dalam melaksanakan tri dharma perguruan tinggi.

Ketika gaji dosen di Indonesia sudah memadai mereka akan bisa bersaing dengan dosen asing.

4. Membuka kesempatan dosen lokal untuk mengembangkan kemampuannya.

Pengembangan kemampuan yang dimaksud disini adalah selain kesempatan studi lanjut juga pelatihan-pelatihan dan kegiatan lainnya. Beasiswa bagi dosen studi lanjut hendaknya bisa ditambah jumlahnya (dari segi nominal dan jumlah penerimanya).

Banyak dosen yang menginginkan studi lanjut terkendala dana. Dosen di daerah juga merasakan belum banyak kesempatan yang bisa diikuti untuk pengembangan diri seperti mengikuti pelatihan non gelar dan sebagainya.

Begitu juga dana penelitian hibah untuk dosen juga perlu ditingkatkan. Ketika kesempatan-kesempatan itu semakin luas diberikan, tentu saja kualitas dosen lokal akan bisa bersaing dengan kualitas dosen asing. 

Oleh : Hardianto
Dosen Pendidikan IPS UPP dan Mahasiswa S3 MP Universitas Negeri Jakarta

Loading...